MUQADDIMAH DAN KESIMPULAN
MUQADDIMAH DAN KESIMPULAN DARI BUKU YANG DI KARANG OLEH HARUN YAHYA ADALAH NAMA PENA DARI ADNAN OKTAR
Pesan-pesan suci, disampaikan untuk umat manusia oleh Allah melalui utusan-utusan-Nya, telah dikomunikasikan kepada kita sejak penciptaan umat manusia, Beberapa masyarkat/kaum telah menerima pesan/ajaran ini sementara yang lain telah mengingkarinya. Adakalanya, ada sejumlah kecil dari suatu masyarakat yang mau menerima perintah suci tersebut mengikuti seorang pembawa risalah(nabi).Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri.(QS. At-Taubah: 70)
Namun sebagian besar dari masyarakat yang telah didatangi risalah
suci tersebut tidak bersedia menerimanya. Mereka tidak hanya mengabaikan pesan
suci yang disampaikan oleh sang pembawa pesan, namun juga berusaha untuk
melakkan perbuatan keji terhadap para pembawa pesan dan para pengikutnya. Para
pembawa pesan suci tersebut biasanya dituduh serta difitnah sebagai "pembohong,
sihir, orang yang sakit gila dan penuh dengan kesombongan" dan menjadi pemimpin
dari banyak orang yang harus mereka cari-cari untuk dibunuh.
Semua hal yang diinginkan oleh para nabi dari kaumnya adalah
kepatuhan mereka kepada Allah. Mereka tidak meminta uang ataupun berbagai
keuntungan dunia lainnya sebagai balasan. Dan juga mereka tidak berusaha memaksa
kaum mereka. Yang mereka inginkan hayalah mengajak kaum mereka kepada agama yang
haq dan bahwa mereka seharusnya memulai sebuah jalan hidup yang berbeda bersama
dengan para pengikutnya terpisah dari masyarkat.
Apa yang telah terjadi antara Syu'aib dan kaum Madyan dimana dia
diutus, menggambarkan hubungan antara nabi dengan kaumnya sebagaimana yang
disebutkan dimuka. Reaksi dari suku Syu'aib terhadap Syu'aib, yang menyerukan
kepada mereka untuk beriman kepada Allah dan menghentikan semua tindakan
ketidakadian yang telah mereka lakukan, dan bagaimana itu semua berakhir
sangatlah menarik :
Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka
Syu'aib, Ia berkata: "Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan selain
Dia. Dan jaganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat
kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu
akan azab hari yang membinasakan (kiamat)."
Dan Syu'aib berkata: "hai kaumku, cukupkanlah takaran dan
timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak
mereka dan janganlah kamu berbuat kejahatan di muka bumi dengan membuat
kerusakan.
Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kamu jika
kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri
kamu.
Mereka berkata: "Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu
agar meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami
berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah
seorang yang sangat penyantun lagi berakal.
Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku
mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya
rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya). Dan aku tidak
berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak
bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan
tidak ada taufik bagiku, melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada
Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.
Hai kaumku, janganlah hendakya pertentangan antara aku (dengan
kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang
menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaun Luth tidak (pula)
jauh (tempatnya) dari kamu.
Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah
kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi maha Pengasih.
Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti
tentang apa yang kamu katakana itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat
kamu seorang yang benar-benar lemah diantara kami; kalau tidaklah karena
keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang
yang berwibawa disisi kami.
Syu'aib menjawab: "Hai kaumku, apakah keluargaku lebih
terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedangkan Allah kamu jadikan
sesuatu yang terbuang dibelakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi
apa yang kamu kerjakan".
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, berbuatalah menurut
kemampuanmu, sesungguhya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa
yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan
tunggulah azab (tuhanku), sesungguhnya akupun menungu bersama kamu."
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan
orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan
orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah
mereka mati bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah
berdiam di tempat itu. Ingatlah kebinasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana
kaum Tsamud yang telah binasa.(QS Huud 84-95).
Dengan memikirkan "batu /prasasti Syu'aib" yang tidak lain kecuali
menerukan mereka kepada kebaikan, kaum Mdyan dihukum dengan kutukan dari Allah
dan merekapun telah dibinasakan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat diatas.
Masyarakat Madyan bukanlah satu-satunya contoh. Sebaliknya sebagaimana Syu'aib
sedang berbicara kepada kaumnya, banyak masyarakat yang telah ada lebih dahulu
sebelum masyarakat Madyan yang telah dibinasakan. Setelah Madyan, banyak
masyarakat lain yang juga dihancurkan oleh kemurkaan Allah.
Di dalam halaman-halaman berikut, kita akan menyebutkan
masyarakat-masyarakat yang telah disebutkan diatas yang telah dibinasakan dan
sisa-sisa peninggalan mereka. Di dalam Al Qur'an, masyarakat-masyarakat ini
disebutkan secara mendetail dan orang-orang diajak untuk merenungkan dan
mengambil pelajaran serta peringatan tentang bagaimana kaum-kaum ini
berakhir.
Pada titik ini, Al Qur'an secara khusus menarik perhatian terhadap
kenyataan bahwa sebagian besar dari masyarakat yang dihancurkan tersebut
memiliki tingkat peradaban yang tinggi. . Di dalam Al Qur'an, sifat-sifat dari
kaum-kaum yang dihancurkan ditekankan sebagai berikut:
Dan berapa banyakkah umat-umat yang telah Kami binasakan
sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka
mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjajah di beberapa negeri.
Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?.(QS Qaf 36).
Dalam ayat tersebut, dua sifat dari kaum yang telah
dihancurkan secara khusus ditekankan. Yang pertama adalah mereka merasa "lebih
besar kekuatannya". Hal ini berarti bahwa masyarakat-masyarakat yang telah
dibinasakan tersebut telah berada dalam suatu tingkat kedisiplinan dan system
birokrasi militer yang tangguh dan merenggut kekuatan diwilayah mereka berada
memalui dengan cara paksaan kekuatan. Point kedua adalah masyarakt-masyarakat
yang telah disebutkan dimuka mendirikan kota-kota besar yang dihiasai dengan
karya-karya arsitektur mereka.
Hal ini patut untuk diperhatikan bahwa dari kedua macam sifat-sifat
ini termasuk yang dimiliki oleh peradaban yang ada dijaman kita sekarang ini,
yang telah membentuk sebuah kebudayaan dunia yang begitu luas melalui ilmu
pengetahuan dan teknologi saat ini dan telah mendirikan negara-negara yang
tersentralisir, kota-kota besar, namun mereka masih tetap mengingkari dan
mengabaikan Allah, melupakan bahwa semua hal tersebut memungkinkan untuk dibuat
kaena Kekuasan Allah saja. Namun, sebagaimana dikatakan di dalam ayat, peradaban
mereka yang telah berkembang tidak bisa menyelamatkan masyarakat yang telah
dihancurkan tersebut, dikarenakan peradaban mereka berdiri diatas landasan
pengingkaran terhadap Allah. Akhir dari peradaban saat inipun tidak akan berbeda
selama peradaban sekarang ini berdasarkan kepada pengingkaran dan berperilaku
jahat di dunia.
Sejumlah peristiwa penghancuran, beberapa diantaraya yang
diceritakan dalam Al Qur'an, telah dibenarkan oleh berbagai penelitian
arkeologis yang dilakukan di jaman modern, Temuan-temuan ini yang secara jelas
membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa yang dikutip dalam Al Qur'an benar-benar
pernah terjadi, menjelaskan perlunya untuk menjadi "peringatan terlebih dahulu"
yang banyak digambarkan dalam kisah-kisah Al Qur'an. Allah berfirman di dalam Al
Qur'an bahwa penting untuk "bepergian di muka bumi" dan "melihat bagaimana
kesudahan orang-orang sebelum mereka".
Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang
Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidaklah mereka
bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum
mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih
baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memikirkanya.
Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harrapan lagi (tentang
keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah
kepada rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami
kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang
berdosa.
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran
bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang
dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kiab-kitab) yang sebelumnya dan
menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman.(QS Yusuf 109-111).
Sesungguhnya, terdapat banyak contoh dalam kisah-kisah tentang
masyarakat di waktu lampau bagi orang-orang yang dikaruniai kepahaman.
Kehancuran mereka yang disebabkan oleh pemberontakan mereka terhadap Allah dan
penolakan terhadap perintah-perintah-Nya, kaum-kaum ini mengungkapkan kepada
kita betapa lemah dan tidak berdayanya umat manusia dhadapan Allah. Di dalam
halaman-halaman berikut, kita akan mempelajari contoh-contoh dalam susunan yang
urut berdasarkan kronologi kejadiannya.
KESIMPULAN
Semua kaum yang telah kita pelajari sampai dengan sekarang, mempunyai beberapa sifat-sifat yang umum seperti : melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, menyekutukan Allah dengan yang lain, berlaku sombong di muka bumi, dengan sewenang-wenang menguasai tanah milik orang lain, cenderung terhadap perilaku seksual yang menyimpang dan angkara murka. Kesamaan umum ciri-ciri yang mereka miliki adalah penindasan dan ketidakadilan mereka terhadap kaum Muslim. Mereka mencoba dengan setiap cara untuk menakut-nakuti kaum Muslim.Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita )oleh orang-orang yang sebelum mereka?. Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak sekali-kali berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS ar Rum 9).
Tujuan dari peringatan-peringatan yang terdapat dalam Al Qur'an tentu saja tidaklah hanya untuk memberikan berbagai pelajaran sejarah. Al Qur'an menyatakan bahwa cerita-cerita tentang para nabi diceritakan hanya untuk memberikan sebuah "permisalan". Para Nabi yang telah terlebih dahulu meninggal haruslah membawa mereka yang datang setelah mereka ke jalan yang benar :
Maka tidaklah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin)
berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka
berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu?. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.(QS Thaha 128).
Jika kita menyadari semua ini merupakan "contoh-contoh/petunjuk" maka kita
dapat melihat bahwa sebagain dari masyarakat kita tidak lebih baik, dalam hal
kemerosotan moral dan pelanggaran dibandingkan dengan kaum-kaum yang dibinasakan
dan yang disebutkan dalam kisah-kisah ini.Sebagai contoh, sebagian besar masyarakat saat ini mempunyai jumlah pelaku sodomi dan homoseksual yang sangat banyak yang mengingatkan kita kepada "kaum Lut". Homoseksual, melakukan pesta seks dengan "para pemuka dari suatu masyarakat",mempertontonkan segala macam penyimpangan seksual mengalahkan rekan-rekan mereka di Sodom dan Gomorrah. Khususnya sekelompok orang dari mereka yang hidup dikota-kota besar di dunia yang telah "berkembang lebih lanjut" daripada mereka yang ada di Pompeii.
Semua kaum yang telah kita pelajari diatas, mereka telah dibinasakan melalui berbagai macam bencana alam seperti gempa bumi, badai, banjir dan sebagainya. Sama halnya, kaum-kaum yang tersesat dan berani melakukan tindakan pelanggaran seperti halnya orang-orang di masa lalu, juga akan dihukum dengan cara yang sama.
Seharusnya tidak kita lupakan bahwa Allah akan menghukum siapapun orang ataupun bangsa bila Ia berkehendak. Atau Ia akan membiarkan brangsiapa yang Ia ingini untuk tetap hidup biasa di dunia ini (meskipun mereka mengingkari ajaranNya- pen) namun menghukumnya di alam (akhirat) nanti. Al Qur'an menyatakan :
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya,
maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan
diantara mereka ada ditimpa dengan suara yang keras yang mengguntur, dan
diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada
yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka,
akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(QS Al Ankabut 40)
Al Qur'an juga menceritakan tentang seorang penganut yang berasal dari
keluarga Fir'aun dan hidup dalam masa nabi Musa, namun yang menyembunyikan
keimanannya. Ia berkata kepada kaumnya : "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) Seperti keadaan kaum Nuh, Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hambaNya.
Hai kaumku , sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan
hari panggil-memanggil. (yaitu) Hari ketika kamu (lari) berpaling ke belakang,
tidak ada bagimu yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah , dan siapa yang
disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi
petunjuk.QS . Al-Mukmin: 30-33)
Semua Nabi dan Rasul memperingatkan kaumnya, menunjukan kepada mereka tentang
Hari Pembalasan/Kiamat dan mencoba membuat mereka takut akan azab dari Allah,
sebagaimana yang dilakukan pengikut yang menyembunyikan kepercayaannya ini.
Kehidupan dari semua Nabi dan pembawa risalah dikirimkan untuk menerangkan
hal-hal ini kepada kaum mereka berulang-ulang kali. Namun demikian, kebanyakan
dari kaum dimana mereka diutus menuduh mereka sebagai penuh dengan kebohongan,
memperoleh keuntungan materi atau mencoba untuk memaksakan keunggulannya atas
mereka dan merekapun melanjutkan melakukan system mereka sendiri tanpa
memikirkan apa yang tekah dikatakan para nabi kepada mereka atau tanpa
mempertanyakan perbuatan mereka. Banyak diantara mereka yang telah bertindak
terlalu jauh dan mencoba untuk membunuh atau mengusir para pengikut nabi. Jumlah
orang-orang yang percaya dan patuh, seringkali sangat sedikit. Namun
bagaimanapun juga dalam kasus masyarakat-masyarakat yang pengingkaran, Allah
senantiasa hanya menyelamatkan para Nabi dan pengikut-pengikutnya.Meskipun ribuan tahun telah berlalu, dan terjadi berbagai perubahan dalam tempat, perilaku, teknologi dan peradaban, namun belum banyak yang telah berubah dalam struktur sosial dan system dari mereka yang tidak percaya yang telah disebutkan di atas. Sebagaimana telah ditekankan diatas, sejumlah tertentu dari suatu masyarakat dimana kita hidup memiliki semua sifat-sifat corrupt dari kaum-kaum yang disebutkan dalam Al Qur'an. Seperti halnya KaumThamud sebagai tolok ukurnya, saat ini juga terdapat sejumlah besar pemalsu dan penipu. Keberadaan "komunitas homoseksual" yang dipertahankan kapan saja bila perbuatan itu muncul, dan para anggotanya yang tidak berkurang sebagaimana kaum Lut dalam perilaku penyimpangan seksual yang telah mencapai puncaknya. Sejumlah besar dari masyarakat berlaku sebagaimana kaum Saba yang tidak bersyukur dan dan ingkar, tidak bersyukur atas kekayan yang dianugerahkan kepada mereka sebagimana halnya kaum Iram, ketidakpatuhan dan penghinaan terhadap para penganut sebagaimana kaum Nuh dan ketidakacuhan terhadap keadilan social sebagaimana halnya kaum 'Ad.
Dari sini terdapat tanda-tanda yang sangat jelas ….
Kita harus selalu mencamkan dalam pikian kira bahwa bagaimanapun perbedaan yang datang dari berbagai masyarakat atau bagaimanapun tinggi tingkat teknologi,hal ini tidak ada artinya sama sekali. Tidak ada satupun dari hal ini yang mampu menyelamatkan seseorang dari hukuman dan azab Allah. Al Qur'an mengingatkan kita atas semua kenyataan ini :
Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan
memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita )oleh orang-orang yang sebelum
mereka?. Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah
mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah
mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan
membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak sekali-kali berlaku zalim
kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.(QS
ar Rum 9).
"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana".(QS Al Baqoroh 32 )
DARI SAYA PRIBADI
saya termasuk orang yang senang belajar sejarah, dan saya berkeyakinan kalau kita ingin membangun peradaban yang besar dan mulia maka hal pertama kita semua harus lakukan adalah kita mengetahui dimana kita harus memulai peradaban yang kita inginkan tersebut. maka dengan belajar sejarah kita akan mengetahui dimana kita harus memulai dari peradaban yang pernah ada sebelumnya. sebagai contoh masa islam berada pada posisi kejayaannya yakni dimasa bani abbasiyyah, pemimpin rakyatnya pada saat itu mereka cinta ilmu, senang dengan ilmu dan memuliakan orang berilmu, maka hasilnya adalah peradaban yang dimana banyak lahir para ulama dan ilmuan, taruhlah dalam bidang keagamaan kita kenal imam asy-syafi'ie, imam ahmad dan ulama-ulama lain. seta dalam bidang keduniaan kita kenal bapak kedokteran ibnu sina, penemu teori matimatika (al-jabar) al-khawarizmi dan masih banyak lagi. maka ketika kita tahu apa yang telah di capai oleh orang sebelum kita maka di situlah kita harus memulai peradaban yang kita inginkan.
Komentar
Posting Komentar